Di sebuah dunia yang berwarna hitam putih tidak ada tempat untuk warna lain. Kehadiran warna lain bisa menjadi sebuah ancaman yang akan merusak harmoni kedua warna tersebut. Mungkin manusia tidak ingin menjadi repot atau digubris olehnya.
Di Thailand si lain itu adalah Nong Thoom. Dunia mengenalnya sebagai seorang petinju, Muay Thai. Dia bukan saja seorang juara dalam olah raga yang penuh kekerasan tersebut tapi dia juga adalah Kathoey, yaitu seorang transgender dari lelaki menjadi wanita. Maka Nong Thoom beraksi di atas ring dengan make up di wajah dan gincu merah di bibir. Nong Thoom adalah paradoks. Dia menghadirkan gerak gemulai sekaligus mampu melepas tendangan yang akan menaklukkan lawan-lawannya. Ring tinju di Thailand tidak akan sama lagi. Dia dicemooh sekaligus dipuji.
Sebagai sebuah kisah nyata film ini di tempatkan dalam bentuk biopic. Plot di mulai dari Nong Thoom kecil, pergelokan batinnya sampai akhirnya dia memutuskan untuk ganti kelamin. Fase-fase hidup Nong Thoom dibawakan dalam skenario yang enak sekali diikuti selain karena dramatisasi yang berhasil disajikan dalam cerita, juga gambar yang dihasilkan oleh DOPnya sangat indah. Keindahan warna dan kelembutan gambar ini selaras dengan citra dari Nong Thoom yang lelaki namun kewanita-wanitaan. Dalam sebuah sekuens latihan tinju, penonton akan melihat paradoks dari Muay Thai itu: walau dekat dengan kekerasan namun gerakannya penuh keindahan. Ini dihasilkan oleh DOPnya lewat pencahayaan yang menghadirkan siluet. Tidak salah jika film ini diberi judul Beautiful Boxer.
Beautiful Boxer adalah film debutan dari sutradara Ekachai Uekrongtham. Sebuah debutan yang bisa dikatakan sukses. Paling tidak film ini telah mengantongi 6 penghargaan dan Asanee Suwan yang bermain sebagai Nong Thoom mendapat penghargaan sebagai aktor terbaik di Thailand National Film Association Awards.