Welcome to MUBI.
Your online cinema. Anytime, anywhere.

Reviews of Kill Bill: Vol. 1

Displaying all 4 reviews

back to Kill Bill: Vol. 1

Picture of LifeofFiction

LifeofF​iction

9Dec11

Watched these two for the first time as a double feature and absolutely loved every minute of the 4 hours. Tarantino has a completely unique way of putting his personality into every single one of his films, and everyone I have seen has been a masterpiece in my eyes. His best is without a doubt Reservoir Dogs, but every one of his films is stylized with fantastic writing and they always make for an energetic viewing.
As for Kill Bill, Tarantino let loose. They are a straight thrill ride from start to finish and when the credits rolled I was ready for part two because I had such a good time with part one. The differences between them are subtle so I’m giving them both the same score, but they do two different things well in each of them. The first is a more stylized action martial arts film with little backstory and a ton of blood. While the other takes a more patient tone, flushing out any backstory you could want while staying clear on what it’s trying to accomplish. They both come together wonderfully leaving that bitter sweet taste of revenge in your mouth.

  • Currently 5.0/5 Stars.
Picture of Satrio Nindyo Istiko

Satrio Nindyo Istiko

20Apr10

Banyak film sekuel yang tidak sesukses pendahulunya secara kualitas ataupun komersil ataupun keduanya. Tapi, hal ini tidak terjadi pada “Kill Bill”. Tidak mungkin pula bagi saya untuk memisahkan Kill Bill Vol.1 dan Vol.2. Alasannya bukan karena di awal pembuatan, kedua film ini berangkat dari satu script setebal 200-an halaman. Tapi karena kedua film ini memiliki tema besar yang sama, yaitu menunjukkan kecintaan Quentin Tarantino pada film. Semua hal yang ia sukai dan- saya percaya – ia benci dari berbagai genre film dituangkannya ke dalam film ini. Dari segi cerita dan teknis, Ia dengan genius memainkan alur, karakter, kamera, visual effect, editing, sound effect, make up, properti, dan setting. Dari segi penalaran film, ia bahkan banyak memasukkan hal yang tidak masuk akal (seperti layaknya banyak film) yang membuat penonton mendapatkan pengalaman sinematik yang tak terlupakan.

Diceritakan tentang seorang wanita mantan pembunuh bayaran yang dalam keadaan hamil tua, hampir tewas dibunuh oleh boss-nya dan rekan-rekan sesama pembunuh bayaran di saat hari pernikahannya. Selanjutnya kita hanya mengenal wanita tersebut sebagai The Bride (Uma Thurman). Setelah empat tahun dalam koma, Ia pun terbangun dan berjanji akan membunuh semua orang yang membantai habis orang-orang yang ada di gereja saat pernikahannya, yaitu para pembunuh bayaran yang tergabung dalam The Deadly Viper Assasination Squad yang terdiri dari Elle Driver (Daryl Hannah), O-Ren-Ishii (Lucy Liu), Budd (Michael Madsen), dan Vernita Green (Vivica A. Fox). Boss dari gang pembunuh bayaran ini adalah seorang laki-laki bernama Bill (David Carradine).

Gaya penceritaan Quentin Tarantino yang selalu membagi cerita dalam filmnya menjadi beberapa chapter membuatnya lebih mudah dalam menciptakan momen dengan cara teramat detail yang terlihat dari setiap shotnya. Hasilnya, banyak sekali adegan yang menjadi favorit penonton. Sebut saja adegan ketika The Bride hendak dibius oleh Elle Driver yang menegangkan, animasi yang menunjukkan masa lalu O-ren-Ishi, pertarungan antara The Bride dengan pasukan Crazy 88 dan Gogo, one-on-one The Bride dengan O-ren-Ishii, perjuangan The Bride untuk bebas saat dikubur hidup-hidup oleh Budd, adegan finishing touch saat bertarung dengan Elle, serta jurus rahasia yang digunakan The Bride saat klimaks melawan Bill.

Originalitas sudah menjadi barang yang cukup langka di dalam dunia film. Setiap cerita baru yang muncul biasanya sudah pernah ditampilkan sebelumnya. Bahkan film “Avatar” karya James Cameron pun saya rasakan ada kemiripan dengan game “Final Fantasy” dalam peleburan antara manusia, monster, teknologi, dan dunia magis. Namun, saya menyukai film yang secara jujur menyatakan diri sebagai film yang dibuat dengan berbagai referensi, baik secara lansung ataupun tidak langsung. Film “Kill Bill” sendiri banyak sekali mengambil referensi dari berbagai genre film, seperti samurai, kung fu, drama kriminal, western, mafia, romance ala Bonnie-and-Clyde, film bisu (perhatikan shot dimana wajah The Bride ditimpa dengan adegan saat dia dibantai dan disertai warna merah sirine), animasi, film kelas B (dalam hal ini, perhatikan deretan pemain selain Uma Thurman dan Samuel L. Jackson. Apa mereka benar-benar tenar?), dan saya yakin masih banyak lagi. Dari sederan referensi itu, seakan-akan Quentin ingin untuk menumpahkan semua hal yang pernah Ia saksikan dari film dan meninggalkan sesuatu di benaknya. Oleh karena itu, saya merasa kagum saat dia masih bisa tetap kreatif dan orisinil saat membuat “Inglourious Basterds”.

Perbedaan yang terasa antara Vol.1 dan Vol.2 adalah pada bagaimana Quentin menampilkan karakternya. Di Vol. 1, Ia tidak banyak menggunakan dialog dan hanya menekankan pada visual untuk menggambarkan karakternya. Saat karakter itu sudah dikenal oleh penonton, Quentin memperdalam background karakternya di Vol.2 dan kembali menampilkan ciri khasnya dalam menampilkan karakter lewat dialog yang tidak to-the-point. Saya jadi membayangkan,konsep seperti apa yang Ia bawa saat film ini belum dipisah menjadi dua volume? Namun, ternyata pembagian ini justru memberikan mampu mengangkat “Kill Bill” menjadi film begitu imajinatif dan hiperaktif.

Perbedaan yang terasa antara Vol.1 dan Vol.2 adalah pada bagaimana Quentin menampilkan karakternya. Di Vol. 1, Ia tidak banyak menggunakan dialog dan hanya menekankan pada visual untuk menggambarkan karakternya. Saat karakter itu sudah dikenal oleh penonton, Quentin memperdalam background karakternya di Vol.2 dan kembali menampilkan ciri khasnya dalam menampilkan karakter lewat dialog yang tidak to-the-point. Saya jadi membayangkan,konsep seperti apa yang Ia bawa saat film ini belum dipisah menjadi dua volume? Namun, ternyata pembagian ini justru memberikan mampu mengangkat “Kill Bill” menjadi film begitu imajinatif dan hiperaktif.

Visioner dan revolusionis. Dua kata itu saya rasa memang tepat untuk disematkan untuk sang sutradara Quentin Tarantino dan film “Kill Bill” ini patut menjadi salah satu pernyataan cinta dari seorang sutradara untuk film yang paling fenomenal dalam sejarah perfilman.

(Diambil dari blog Labirin Film http://labirinfilm.blogspot.com)

  • Currently 5.0/5 Stars.
Picture of Brad S.

Brad S.

18Nov09

I will occasionally see a movie twice, just to catch the reaction of the people I’m with, who are seeing it for the first time. With KILL BILL VOLUME ONE, Quentin Tarantino seems to be doing the same thing. Instead of showing us the blaxploitation, and Asian kung-fu/samurai movies that shaped him, he has made a loving homage to them. Because he’s one of the most talented directors ever to make films, this movie is much better than its influences.

Quentin would probably disagree with that, but his love of grindhouse or exploitation films is shared only by a small but dedicated cult. I respect this cult, but I’m not part of it. I regard both my favorite blaxploitation and kung fu films, FOXY BROWN and ENTER THE DRAGON respectively, as entertaining, but silly guilty pleasures. (For the record, I don’t consider CROUCHING TIGER or Jackie Chan films in this genre.)

Back to KILL BILL. This movie just rocks! The visuals are unforgettable and, though not as prominent as in the past, the dialogue remains clever and smart. For the first time, Quentin shows what he can do with extended action scenes. As a love letter to the seventies, there’s no CG allowed, just amazing fight choreography and stunt work.

Uma’a performance allows Quentin to be as wild and crazy as he needs to, by providing a strong and sympathetic center to the film. The other notable performance was by martial arts cult hero Sonny Chiba as the wise old sword maker. It’s the one sequence where the audience is allowed to catch their breaths and its very charming. His relationship with The Bride reminded me of Yoda and Luke in EMPIRE STRIKES BACK, but I may be alone in that observation.

The music is completely out of left field and cool as hell. It’s mostly instrumental stuff that reflects the same influences as the film. Can’t wait to see that Japanese girl band on tour!

  • Currently 5.0/5 Stars.
Picture of MovieFreak4702

MovieFr​eak4702

31Aug09

Tarantino isn’t looking to do anything but entertain you, and here he does it well, but not flawlessly. Volume 1 is stylish as hell and surprising, but the anime section of the film really takes a large chunk out of the narrative at work, and the surplus of action versus dialogue didn’t really work for me. Granted, Volume 2 was all about the story, this was more of a tease/set-up to the second installment, but even though Volume 1 isn’t a perfect Tarantino film, it’s far from being bad. Uma is very intimidating as The Bride, and the integration of kung-fu with a squad of hit-men/women is very cool. I know Tarantino rips everyone and their mother off, but he does it in a way that makes obscure or forgotten films that much easier to watch, even if the only reason you watch it is because “that scene” was in “that Tarantino movie”. Overall, a great start to a powerful saga overall, but not nearly as amazing as Volume 2.

  • Currently 4.0/5 Stars.