Welcome to MUBI.
Your online cinema. Anytime, anywhere.

Reviews of Platform

Displaying all 2 reviews

back to Platform

Picture of Yuki Aditya

Yuki Aditya

15Feb10

Industri film di Cina Daratan telah ada semenjak zaman film bisu, dengan bakat seperti Ruan Ling-yu yang banyak membintangi film-film melodrama yang banyak dipengaruhi oleh film-film Hollywood. Namun industri perfilman mereka lebih mudah dan lazim diasosiasikan dengan film kung-fu atau martial arts. Kesuksesan Zhang Yimou dengan Raise the Red Lantern dan Chen Kaige dengan Farewell, My Concubine membuat mata dunia menoleh bahwa Cina juga dapat membuat drama.

Jia Zhang-ke, mungkin namanya akan terasa asing di Indonesia. Di Cina Daratan sendiri, film-filmnya tidak dapat dinikmati secara luas dan legal sampai film ke-empatnya The World (Shijie) di tahun 2004. Zhang-ke banyak dikritik di negaranya sendiri karena selalu membuat film dengan tema susahnya hidup di negara dengan sistem politik komunis dan dikhawatirkan akan membuat Cina terlihat buruk di mata dunia. Sebelum 2004, film-filmnya hanya dapat dinikmati oleh penduduk Cina dalam format VCD dan DVD bajakan yang beredar luas di setiap sudut di negara itu.

Platform adalah film keduanya, dan banyak kritikus film yang setuju bahwa ini adalah salah satu film terbaik yang dibuat di dekade 2000. Setting waktu adalah Cina Daratan dalam kurun waktu antara tahun 1979 sampai tahun 1990, tetapi dimana Cina mulai membuka diri terhadap sistem Kapitalisme dengan kebijakan Open Door yang terkenal itu, dipimpin oleh Deng Xiaoping. Tidak ada penunjuk tahun dilayar kaca kita, tapi kita dapat merasakan pergantian masa atau tahun melalui perubahan sikap, sifat, musik yang diputar, dan yang terpenting kebiasaan yang dilakukan oleh karakter-karakternya.

Platform diceritakan dari sudut pandang 2 orang karakter pria, Cui Mingliang dan Zhang Jun, serta 3 orang karakter wanita yang mempunyai hubungan asmara dengan dua pria tersebut, yang tergabung dalam sebuah kelompok troupe atau travelling players atau artis keliling yang berasal dari sebuah kota kecil bernama Fenyang. Secara garis besar, Zhang-ke mencoba untuk mengobservasi sebuah kelompok masyarakat dalam menerima dan menjalani perubahan dalam sebuah sistem yang tadinya membuat mereka terkekang, tidak mempunyai privasi, dan kesenangan hanya dapat dilakukan dalam tempat tertutup dan terbatas. Kenaifan generasi muda untuk mengadopsi budaya yang baru dipandang rendah oleh generasi yang lebih tua. Menonton film India atau film asing lainnya, perempuan merokok, memakai celana cut-bray atau bell-bottom, dan mendengarkan musik New Wave yang populer di era 80-an dianggap memalukan dan merendahkan harga diri bangsa, padahal generasi muda itu hanya ingin dianggap sebagai bagian dari warga dunia, atau Citizen of the World.

Merasa bahwa seni teater sudah kuno, grup artis keliling itu mencoba untuk mengikuti tren yang ada dengan merubah pertunjukkan mereka menjadi kelompok seni yang membawakan tarian dan nyanyian yang diiringi musik elektronik New Wave buatan Barat tetapi liriknya dirubah ke Bahasa Mandarin dan Kanton. Beberapa orang siap menghadapi perubahan tersebut, dan banyak pula yang merasa perubahan tersebut terlalu cepat dan drastis. Tetapi seperti film Jia Zhang-ke lainnya, selalu ada rindu akan kenangan masa lalu, ketika kehidupan pribadi masyarakat itu diatur oleh kekuasaan, atau lebih sederhana lagi kerinduan terhadap kampung halaman. Beberapa orang merasa modern dan senang akan keberhasilannya setelah berhasil melihat dunia luar dan melakukan hal-hal baru, dan sebagian menjalani perubahan dengan santai.

Tidak sulit untuk merasakan pengaruh Jia Zhang-ke ketika membuat Platform. Seperti layaknya sutradara-sutradara asal Uni Sovyet terdahulu seperti Sergei Eisenstein, Aleksander Dovzhenko, atau Vsevolod Pudovkin, Jia Zhang-ke mendeskripsikan sebuah cerita dari sekumpulan orang dibanding memfokuskan pada satu atau dua karakter layakya film pada umumnya. Fokus dan atensi penuh kita sangat dibutuhkan untuk dapat menikmati film ini, karena Platform mempunyai narasi yang elipsis, layaknya film dari salah satu sutradara film favorit Jia Zhang-ke, yaitu Robert Bresson. Yang artinya, cerita dalam film tidak akan tergambar utuh atau dibutuhkan partisipasi imajinasi yang aktif dari movie-goer untuk mengisi kekosongan-kekosongan narasi dalam film ini.

Medium shot dan long takes yang kadang ekstrim adalah pilihan Jia Zhang-ke ketika memfilmkan Platform untuk merefleksikan secara visual peningkatan kadar polarisasi di berbagai daerah di Cina, sebagai hasil dari perubahan dalam reformasi ekonomi dan budaya mengikuti arus globalisasi dan mdoernisasi yang tidak dapat dihindarkan lagi di penghujung abad 20. Platform dapat dilihat sebagai komedi hasil observasi subtil atau sebuah Epik Realisme seperti yang dikehendaki Jia Zhang-ke sendiri.

  • Currently 5.0/5 Stars.
Picture of moonmaster9000

moonmas​ter9000

26Jul09

“The long and empty platform,
Lonely we can only wait.
All my love is outbound,
Nothing on the inbound train…”

This trite Chinese pop song from the 1980’s serves as metaphor for the artistically castrated inhabitants of Platform, Jia Zhangke’s second underground film. It’s a three-hour tome on the tragedy of art both under Mao’s authoritarian communist regime and under the rapid capitalist transformation that followed. Mixing a meditative narrative style with disorienting time cuts, we experience the upheavals and inertia of the times through a band of young actors, musicians, and dancers.

Platform opens with a performance of “The Train to Shaoshan” by the Fenyang Peasant Culture Group. In terms of artistic quality, imagine a children’s propaganda musical written by Dick Cheney and performed by Texas A&M’s Young Republicans for the West Bumblefuck elementary school. What could only come to fruition here in a deranged SNL skit was an everyday reality under Mao’s China. Making the performance even more surreal to these western eyes, the Peasant Culture Group’s audience wasn’t school children – it was a large gathering of adult male farmers.

After the performance, we get to know the young troupe of artists. Jia paints a picture of perpetual children mentally stunted by the Party’s black-and-white demarcation between “mental workers” and “manual workers.” Time and time again, they’re miraculously, even cruelly, oblivious to the suffering and injustice surrounding them, especially in their own families; aloof and self-obsessed, they’re the communist equivalent of an American trust fund brat.

As Deng Xiaoping’s market reforms transformed the Chinese economy, the Peasant Culture Groups underwent privatization. But instead of finding artistic liberation, they mutated from celebrated propaganda machines into vapid pop-culture reflections: traveling sideshows of jiggling girls and monstrous cover bands. A pivotal moment for art was wasted by a lingering ideological tyranny and a brainwashed generation of artistic parodies.

Cinematographer Yu Lik-Wai films this jaded epic with commensurate photographic detachment. I’m strained to recall even one principle closeup in the film’s entirety. Yu also experiments with a panning approach that matures 6 years later in Jia’s Still Life . It’s a technique I’ve come to think of as a sort of cinematic “lazy eye”: the unexpected, gradual drift of the camera’s frame from action to the inert.

Jia Zhangke was forced to make his first three films – Xiao Wu (1997), Platform (2000), and Unknown Pleasures (2002) – outside of the Chinese state-run film bureaucracy. Underground filmmakers in China play a risky game; there films are by definition illegal. Even if they find distribution abroad, they’re still forbidden screening in China’s cineplexes. To get their films in front of Chinese eyes, filmmakers pirate their DVDs on the black market. If they publicly screen their films in China, the government bans them from ever working under government approval.

Jia Zhangke is something of an exception; he successfully played the international film festival circuit against the Chinese authorities, making it hard for them to continue to deny state approval to an internationally celebrated auteur. Now that I’ve seen both his underground films and his “approved” films, I can honestly say that the state-seal has not blunted his commitment to “show Chinese Reality without distortion.”

  • Currently 4.0/5 Stars.