Welcome to MUBI.
Your online cinema. Anytime, anywhere.

Reviews of Tokyo Sonata

Displaying all 2 reviews

back to Tokyo Sonata

Picture of LAUGHTODEATH

LAUGHTO​DEATH

6Jun10

Apakah ada orang yang dalam setiap tautan detiknya terlepas dari masalah?, atau setidaknya bila tidak bisa disebut masalah, maka itu mungkin bisa disebut “letupan keinginan”, atau fluktuasi masalah yang relatif kecil. Apa pula yang terjadi bila orang-orang yang sedang mencapai puncak masalah dalam hidup mereka, tinggal dalam sebuah rumah, dalam tautan relasi keluarga?. Disini, Tokyo Sonata (Kiyoshi Kurosawa, 2008) mencoba memperlihatkan bahwa ketika masalah eksistensial menghantam seseorang, maka relasi kemudian bisa dinomor-duakan. Dalam film ini, sangat terlihat bagaimana sebuah keluarga kemudian bercerai berai akibat transformasi masalah yang menguji para karakternya. Awalnya, saya tiidak tertarik untuk menonton film ini. Covernya yang bergambar seorang anak memainkan piano sontak memompa kenangan saya atas film musikal menjijikkan August Rush (Kirsten Sheridan, 2007), tapi beberapa review yang saya baca dan “nasihat” dari beberapa pakar membimbing saya untuk membuka kembali file koleksi dan menonton film ini.

Awalnya, sang ayah dipecat dari tempatnya bekerja karena kantor administrasi yang selama ini dikepalainya akan direlokasi ke Dalian, Cina. Sang ayah kemudian bertemu seorang teman lama yang juga sudah beberapa waktu menganggur. Mereka punya kesamaan, kedua pengangguran ini tak memberitahukan kejadian sebenarnya pada keluarga mereka. Which is, mereka masih bisa memberi uang pada istri karena mereka dijamin oleh pesangon yang tinggi dan asuransi pengangguran, belum lagi makanan gratis yang selalu dibagikan setiap hari (sudahlah, tidak mungkin ada di Indonesia). Sang anak lelaki, Kenji, sempat bermasalah dengan gurunya namun kemudian lebih tertekan karena tak diizinkan ayahnya untuk ikut kursus (masalah ayah-anak ini kemudian berujung pada dekonstruksi parental-values yang memang harus diakui, banyak terjadi), Sang Istri juga menyimpan masalah yang sangat lembut diceritakan pada penonton. Belum lagi kakak Kenji, Takashi yang ingin bergabung bersama tentara Amerika Serikat untuk berperang di Timur Tengah.

Empat puluh menit terakhir film Tokyo Sonata ini mengingatkan saya pada empat puluh menit terakhir dalam The Seventh Continent (Michael Haneke, 1989), kedua film ini menyampaikan deskripsi yang kongruen: disintegrasi keluarga. Hanya saja, dalam The Seventh Continent, Disintegrasi itu disebabkan oleh kebencian keluarga ini pada entah apa: Sang keluarga hanya terlihat beberapa kali datang ketempat cuci mobil, sang anak pura-pura buta, sang ayah mengundurkan diri, lalu berikutnya mereka pergi bersama-sama ke benua ketujuh. Dalam Tokyo Sonata, dapat terbaca bahwa keluarga ini sedang mengalami transformasi masalah baik dari domain privat ke domain publik, maupun dari ranah struktural ke ranah eksistensial, serta vice versa. Awalnya, sang ayah mengalami masalah ditempat publiknya dan bergeser pada perlakuannya pada anaknya, Kenji yang pada awalnya bermasalah dengan gurunya disekolah mendampakkan kejadian pada situasi internal keluarga, sang ibu yang masalahnya (terlihat) mengakar dari dalam (tapi entah apa) kemudian membawa masalahnya dan meresolusinya bersama seorang kriminal tak dikenal darimana datangnya. Takashi mengubah masalahnya dengan lompatan yang lebih jauh lagi.

Jalan cerita seolah akan menemui open-ending sebelum akhirnya secara magis diselesaikan oleh sebuah permainan piano yang memukau, kontemplasi estetis yang, entah kenapa, bisa membuat saya melupakan semua dekonstruksi akut yang menguasai dua jam durasi film berjalan. : Kenji tampil dengan sebuah simfoni menawan, yang kadang-kadang lembut seperti fur elise-nya Beethoven, kadang ia nakal seperti Debussy, kadang pula ia menggaung panjang seperti Bartok. Lantas apa penyelesaian logis atas semua masalah keluarga itu?. Saya menyandarkan semua pada kata-kata sang ibu diakhir film: “You’re the only one who can be you, that’s all we have to hold onto”.

Saya tahu ini terdengar bencong, tapi ini film pertama yang saya tonton di tahun 2010, yang sanggup membuat mata saya berkaca-kaca dan merinding banyak kali. Sebuah persembahan magis dari Kiyoshi Kurosawa.

see more on http://makbulsehat.blogspot.com/

  • Currently 4.0/5 Stars.
Picture of Law

Law

11Oct09

Tokyo Sonata is a masterpiece, an excellent exploration of alienation and the breakdown of the domestic unit amidst a contemporary and (ironically) increasingly globalised society.

Although the title of the film, its poster and its trailer seem to suggest that Tokyo Sonata is a poignant family film about music, the film is clearly not. Kiyoshi Kurosawa, the director of the film, has made various notable horror films before this, and if anything, Tokyo Sonata can be considered as a horror film too, presenting a terrifying image of modern life and modern times. Also, if you do get around to seeing the film, it is really not anything melodramatic. Cold, distant and in possession of some thriller elements would be a more fitting description.

Hence I propose that the title of the film is in fact, or at least can be interpreted as, a reference to the city symphonies very popular in the early 20th century, such as Chelovek s kino-apparatom (1929, Vertov)and Berlin: Die Sinfonie der Großstadt (1927, Ruttman). While city symphonies mostly promoted their cities by portraying them in flattering light along with triumphant music, Tokyo Sonata has a a tendency to deride against Tokyo, cutting to long shots of Tokyo’s highways and construction sites after various complications occur, as though to incriminate Tokyo in the development of such complications. Hence through its title and content, the film makes it clear to us that we are not watching a drama about an isolated situation but a case study of larger social problems derived from the socio-economic conditions of the entire city.

The cinematography here is impeccable. Masterfully framed long takes are often used and Kurosawa clearly has an eye for staging. I also particularly enjoyed the fact that he uses manual focus very selectively. Most of the time, the film does employ some level of manual focus, but not to a very noticeable stylistic extent as many films that employ manual focus today do. He only uses manual focus during key moments such as one that occurs when certain people meet at a shopping centre. It works really well. And the shots of the beach are just brilliant. Speaking of brilliant shots, yet another aspect I liked a lot was the frequent framing of the characters in the house behind blurred objects and frames, clearly establishing the theme of alienation that runs central to the film.

The sound design is very good too. Dissonant notes come in at the right time and silence is always used properly.

Moving away from the technical aspects, the film also seems to weave in a rather existential philosophy. One has to live simply because he is alive, the mother once says. The characters in Tokyo Sonata continue living because they exist, not having anything to really work for, existing exclusively as lost and meandering wanderers, trapped in social expectations.

One of the greatest films of this decade that I have seen. I highly recommend it.

  • Currently 4.0/5 Stars.