Watch unlimited films online for $6.99.
Try MUBI for FREE.
 

TOKYO SONATA: PERSEMBAHAN MAGIS YANG TAKKAN MUDAH TERLUPAKAN.

Apakah ada orang yang dalam setiap tautan detiknya terlepas dari masalah?, atau setidaknya bila tidak bisa disebut masalah, maka itu mungkin bisa disebut “letupan keinginan”, atau fluktuasi masalah yang relatif kecil. Apa pula yang terjadi bila orang-orang yang sedang mencapai puncak masalah dalam hidup mereka, tinggal dalam sebuah rumah, dalam tautan relasi keluarga?. Disini, Tokyo Sonata (Kiyoshi Kurosawa, 2008) mencoba memperlihatkan bahwa ketika masalah eksistensial menghantam seseorang, maka relasi kemudian bisa dinomor-duakan. Dalam film ini, sangat terlihat bagaimana sebuah keluarga kemudian bercerai berai akibat transformasi masalah yang menguji para karakternya. Awalnya, saya tiidak tertarik untuk menonton film ini. Covernya yang bergambar seorang anak memainkan piano sontak memompa kenangan saya atas film musikal menjijikkan August Rush (Kirsten Sheridan, 2007), tapi beberapa review yang saya baca dan “nasihat” dari beberapa pakar membimbing saya untuk membuka kembali file koleksi dan menonton film ini.

Awalnya, sang ayah dipecat dari tempatnya bekerja karena kantor administrasi yang selama ini dikepalainya akan direlokasi ke Dalian, Cina. Sang ayah kemudian bertemu seorang teman lama yang juga sudah beberapa waktu menganggur. Mereka punya kesamaan, kedua pengangguran ini tak memberitahukan kejadian sebenarnya pada keluarga mereka. Which is, mereka masih bisa memberi uang pada istri karena mereka dijamin oleh pesangon yang tinggi dan asuransi pengangguran, belum lagi makanan gratis yang selalu dibagikan setiap hari (sudahlah, tidak mungkin ada di Indonesia). Sang anak lelaki, Kenji, sempat bermasalah dengan gurunya namun kemudian lebih tertekan karena tak diizinkan ayahnya untuk ikut kursus (masalah ayah-anak ini kemudian berujung pada dekonstruksi parental-values yang memang harus diakui, banyak terjadi), Sang Istri juga menyimpan masalah yang sangat lembut diceritakan pada penonton. Belum lagi kakak Kenji, Takashi yang ingin bergabung bersama tentara Amerika Serikat untuk berperang di Timur Tengah.

Empat puluh menit terakhir film Tokyo Sonata ini mengingatkan saya pada empat puluh menit terakhir dalam The Seventh Continent (Michael Haneke, 1989), kedua film ini menyampaikan deskripsi yang kongruen: disintegrasi keluarga. Hanya saja, dalam The Seventh Continent, Disintegrasi itu disebabkan oleh kebencian keluarga ini pada entah apa: Sang keluarga hanya terlihat beberapa kali datang ketempat cuci mobil, sang anak pura-pura buta, sang ayah mengundurkan diri, lalu berikutnya mereka pergi bersama-sama ke benua ketujuh. Dalam Tokyo Sonata, dapat terbaca bahwa keluarga ini sedang mengalami transformasi masalah baik dari domain privat ke domain publik, maupun dari ranah struktural ke ranah eksistensial, serta vice versa. Awalnya, sang ayah mengalami masalah ditempat publiknya dan bergeser pada perlakuannya pada anaknya, Kenji yang pada awalnya bermasalah dengan gurunya disekolah mendampakkan kejadian pada situasi internal keluarga, sang ibu yang masalahnya (terlihat) mengakar dari dalam (tapi entah apa) kemudian membawa masalahnya dan meresolusinya bersama seorang kriminal tak dikenal darimana datangnya. Takashi mengubah masalahnya dengan lompatan yang lebih jauh lagi.

Jalan cerita seolah akan menemui open-ending sebelum akhirnya secara magis diselesaikan oleh sebuah permainan piano yang memukau, kontemplasi estetis yang, entah kenapa, bisa membuat saya melupakan semua dekonstruksi akut yang menguasai dua jam durasi film berjalan. : Kenji tampil dengan sebuah simfoni menawan, yang kadang-kadang lembut seperti fur elise-nya Beethoven, kadang ia nakal seperti Debussy, kadang pula ia menggaung panjang seperti Bartok. Lantas apa penyelesaian logis atas semua masalah keluarga itu?. Saya menyandarkan semua pada kata-kata sang ibu diakhir film: “You’re the only one who can be you, that’s all we have to hold onto”.

Saya tahu ini terdengar bencong, tapi ini film pertama yang saya tonton di tahun 2010, yang sanggup membuat mata saya berkaca-kaca dan merinding banyak kali. Sebuah persembahan magis dari Kiyoshi Kurosawa.

see more on http://makbulsehat.blogspot.com/