Watch unlimited films online for $6.99.
Try MUBI for FREE.
 

WALL·E

By Amir Syarif Siregar on April 20, 2010

WALL·E merupakan film animasi 3D kesembilan dari Pixar dan merupakan film animasi kedua yang disutradarai oleh Andrew Stanton setelah sukses dengan Finding Nemo. WALL·E bercerita mengenai Bumi yang pada abad ke 22 mengalami tingkat polusi yang sangat tinggi karena banyaknya sampah yang menyebabkan Bumi tidak lagi mampu mendukung adanya kehidupan diatasnya. Oleh karenanya, sebuah perusahaan Buy N Large mensponsori migrasi selama 5 tahun ke luar angkasa, dimana para manusia tinggal di sebuah kapal luar angkasa mewah bernama Axiom. Sedangkan untuk mengurus Bumi, Buy N Large telah menyediakan ratusan robot pembersih sampah yang diberi nama WALL·E (Waste Allocation Load Lifter Earth-Class). Namun ternyata sang presiden memutuskan Bumi terlalu beracun untuk ditinggali kembali, sehingga rencana awal tinggal di luar angkasa selama 5 tahun, berlanjut hingga 700 tahun kemudian. Di Bumi sendiri, sampah-sampah masih berserakan, sementara para robot WALL·E semuanya telah rusak, kecuali satu.

Film ini berlanjut menceritakan mengenai kehidupan WALL·E yang karena telah lama tinggal di atas Bumi, lama kelamaan belajar mengenai manusia dan mengumpulkan barang-barang memorable tentang manusia. Hingga datanglah EVE (Extraterrestrial Vegetation Evaluator), sebuah robot yang bertugas untuk mencari dan mendeteksi adanya tanaman di Bumi, sebagai kunci kepulangan kembali umat manusia ke Bumi. WALL·E, yang selama ini sendirian dan hanya ditemani seekor kecoa, merasa senang dengan datangnya EVE, sekaligus jatuh cinta kepadanya. Berdua, WALL·E dan EVE akan mengalami suatu petualangan yang akan menentukan nasib manusia di atas muka Bumi kelak.

Jika seandainya WALL·E bukanlah satu film yang disutradarai oleh Andrew Stanton, diproduseri oleh John Lasseter dan dihasilkan oleh Disney-Pixar, mungkin film ini tidak akan merebut perhatian banyak orang. Tema mengenai robot yang ditempeli dengan tema lingkungan hidup yang dibawanya memang adalah suatu barang baru di lingkungan film animasi. Bukan hanya itu, film ini menawarkan sedikit dialog yang mungkin akan membuat beberapa penonton bosan. Namun di sisi lain, kurangnya dialog di film ini akan memberikan kesempatan pada masing-masing penonton untuk mengartikan sendiri tiap adegan yang mereka tonton.

Sebagaimana film Pixar yang lain, masalah visual adalah suatu hal yang sepertinya tidak perlu dipersoalkan. Pixar selalu memberikan terobosan terbaru dalam hal animasi komputer dalam tiap film rilisannya, termasuk WALL·E. Lihat bagaimana Pixar menggambarkan kelam dan kotornya Bumi, serta gambaran keindahan luar angkasa ketika WALL·E dan EVE sedang dalam perjalanan menuju Axiom. Tidak hanya itu, komposer Thomas Newman memberikan score music yang paling menyentuh dari seluruh film Pixar yang pernah ada. Beberapa scene dalam film ini memberikan suasana bagaikan sedang menonton sebuah film drama romantis, dan hal tersebut memberikan poin tambahan lagi untuk WALL·E.

Jika WALL·E adalah sebuah resep, maka ia dapat digambarkan sebagai sebuah film animasi, yang dipadukan dengan kekuatan visual terbaik dari sebuah film science-fiction, dengan penambahan aroma dari sebuah film komedi romantis paling menyentuh yang pernah ada, sedikit penyedap pesan-pesan moral mengenai masalah ekologi, dan dibungkus dengan sebuah sentuhan klasik ala film Disney yang selalu memberikan rasa heartwarming bagi tiap penontonnya. Dan semua hal tersebut, menjadikan WALL·E adalah sebuah film terobosan baru yang akan membuat setiap pencinta Pixar penasaran bagaimana mereka akan membuat film yang lebih bagus dari rilisan mereka tahun ini… dan sekaligus menempatkan WALL·E sebagai film terbaik sepanjang tahun 2008.