Welcome to MUBI.
Your online cinema. Anytime, anywhere.

Reviews of What Time Is it There?

Displaying all 4 reviews

back to What Time Is it There?

Picture of homer harianja

homer harianj​a

13Aug10

What Time Is It There dibuka dengan shot statis berdurasi panjang, seorang lelaki tua baru saja keluar dari kamarnya. Dia memanggil Hsiao Kang, anaknya sebelum duduk di depan meja makan. Dia duduk lama di situ, lalu bangun dan beranjak menuju ke belakang rumah, menyalakan rokoknya.
Lelaki tua itu kini telah menjadi abu dan tersimpan dalam guci. Hsiao Kang berdesis, untuk bersama dirinya. Mereka baru saja melewati sebuah terowongan gelap, menuju upacara pemakaman.

Hsiao Kang adalah seorang penjual jam di emperan jalan di Taipe. Suatu hari setelah kematian bapaknya dia bertemu dengan seorang perempuan yang hendak pergi ke Paris yang menginginkan jam tangan yang dikenakannya karena jam itu memiliki dua waktu. Hsiao Kang menolak menjualnya karena akan membawa sial bagi si perempuan. Jam ini pemberian bapaknya yang baru saja meninggal. Perempuan itu tidak percaya tahyul seperti itu. Dan Hsiao Kang akhirnya bersedia menjualnya. Namun pertemuan dengan Shiang chyi membawa sebuah perubahan besar dalam diri Hsiao Kang, dia menjadi terobsesi dengan waktu sekaligus Paris. Hsiao Kang mulai ingin tahu tentang Paris. Di malam hari dia nonton 400 blows sambil minum wine. Dia juga memutar semua jam mengikuti jam di Paris. Bahkan jam yang tergantung di sebuah dinding luar gedung bertingkat tinggi. Sementara Shiang chyi di Paris yang tidak dijelaskan ke sana untuk apa, terasing dengan lingkungannya. Dia mendengar suara-suara tapi tidak tau suara siapa. Dia membaca menu yang tidak dia mengerti bahasanya. Satu-satunya perempuan cina yang ditemuinya dan kemudian tidur bersamanya, menolaknya untuk bercinta.

Rasa kehilangan, kesendirian dan ingin menemukan kembali menjadi tema besar film ini. Tsai Ming Liang menuturkan tema tersebut lewat situasi bukannya dialog. Pilihan shot-shot long take statis memberi tempat kepada penonton untuk terlibat dalam sebuah observasi dan meditasi untuk tenggelam dalam situasi dan rasa kehilangan tersebut.

Dengan ciri artistik ini membuat film bertutur tidak seperti kebanyakan film mainstream. Tidak salah kalau kemudian ada penonton yang berkomentar bahwa film ini sangat lambat dan kering. Jika dalam kebanyakan film mainstream nuansa sedih biasa diiringi biola yang menyayat, atau musik melankoli untuk mengangkat emosi penonton, dalam film ini tidak ada musik sama sekali. Memang benar-benar kering. Pilihan suara diluar dunia frame diminimalisir. Semuanya membuat berjarak dan jauh. Dan itu sejalan dengan ide dan tema dalam film ini. Artinya konsep artistik yang dipakai Tsai Ming Liang menjadi efektif dan berhasil. Perasaaan yang terbangun dalam diri penonton bukanlah bentukan artificial tapi karena penyelaman atas situasi yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Contoh ketika bagaimana sang istri, ibu Hsiao Kang, yang makan malam sendirian di meja makan dengan ditemani sebatang lilin seolah sang suami duduk di depannya dan kemudian akhirnya mereka bercinta dalam kehangatan, saya tahu sang ibu sedang bermasturbasi dalam bentuknya yang paling suci.

  • Currently 5.0/5 Stars.
Picture of LAUGHTODEATH

LAUGHTO​DEATH

6Jun10

Berapa banyak film yang menceritakan perjalanan seorang karakter secara berseri?, tentu tak terhitung. Harry Potter, Jack Sparrow, Isabella Swan, dan banyak lagi. Saya bermaksud membicarkan tentang anak Kuching, Tsai Ming Liang (Sumpah, Ming Liang lahir di Kuching, Serawak!, deket kan?), sutradara Taiwan yang cukup banyak beredar film-filmnya. Ming Liang menciptakan karakter yang ia namai Xiao Kang, petualangan Xiao Kang bermula di film The River yang rilis tahun 1997. Banyak orang menganggap The River sebagai film penting, meskipun buat saya The River hanyalah sebuah film boring yang menceritakan seorang anak lelaki sakit leher yang berhubungan seksual dengan ayahnya.

The River kemudian berlanjut ke sekuelnya, What Time Is it There?, disini Xiao Kang sudah bekerja sebagai penjual arloji, suatu saat ia kedatangan seorang pembeli yang berkeras membeli bukan arloji dagangannya, tapi justru arloji yang sedang dipakainya. Si-gadis pembeli ini mengaku akan segara pergi ke Paris. Meskipun hanya bertemu sebentar, namun perjumpaan Xiao Kang dengan gadis itu terus menerus mengganggu otaknya. Mengetahui si gadis akan pergi ke Paris, maka Xiao Kang mencoba “membuntuti” impresi apa yang ditemui dan dirasakan oleh si gadis diperjalanannya: Xiao Kang mencoba menonton film-film perancis!.

Tsai Ming Liang berhasil untuk tidak mengulangi kesalahannya dalam The River. Sekuelnya ini sukses menyatukan benang merah cerita kedalam satu konsep bernama waktu. Penggambaran Ming Liang mengenai waktu membuat saya teringat pada Perdebatan antara Leibniz dan Einstein. Leibniz menganggap bahwa waktu itu absolut sementara Einstein menganggapnya relatif. Visualisasinya menjadi konkrit ketika Xiao Kang berusaha mengubah semua jam di Taipei menjadi sesuai dengan waktu Perancis. Kekosongan yang menohok akibat ditinggalkan si-gadis membuatnya begitu bersemangant melakukan hal sesepele itu. Mulanya hanya arloji dagangannya saja yang jadi korban, namun pada akhirnya seluruh jam di Taipei menjadi sasarannya. kesepelean yang berhasil disulap menjadi sebuah eksotisme.

Imajinasi Ming Liang tentang waktu berikutnya sampai juga pada konsep khas agama-agama Asia Timur: Reinkarnasi (Tsai Ming Liang mempromosikan metode akupunktur dalam The River, ingat?). Ia berusaha menunjukkan bahwa agama-agama Asia bukanlah agama yang ethereal. Reinkarnasi tidak hanya terjadi di Asia saja, para pemain yang memang lebih dekat kepada audiens dari pada sesama pemain, tidak merasakan bahwa karakter yang mereka hadapi adalah subjek reinkarnasi. Adegan disebuah pagi ditepi kolam di Paris membuktikan hal itu. Bahwa reinkarnasi bisa juga terjadi, bahkan dikota se-ilmiah Paris!!.

Tsai Ming Liang menampilkan aktornya seperti beberapa ekor hamster yang bermain dalam kandang, kamera sama sekali tak pernah bergerak. Para karakterlah yang dituntut untuk berkeliaran on dan off camera silih berganti untuk merajut tautan cerita. Bagi yang cepat terprovokasi oleh tempo narasi yang datar, bisa saja segera bangkit dan berkata “Ah. Mending gue cari film lain yang lebih seru, yang adengan ngobrol-nya lebih banyak!”. Untungnya saya tidak sampai melakukannya. sebab bila saya lakukan, maka saya akan termasuk orang-orang yang merugi, rugi sebab tak bisa ikut larut dalam penyampaian penting nan implisit Tsai Ming Liang tentang imaji eskapistik yang diresapi Xiao Kang saat menonton Th 400th Blows-nya Truffaut, kemudian membayangkan bahwa dirinya adalah Antoine Doinel dewasa. Cerita kaburnya Doinel dari rumah bergaung dalam tindakan Xiao Kang yang tak mau repot keluar dari kamar untuk buang air kecil, meskipun dalam balutan gema yang renik.

Anak Kuching ini lumayan sukses berkompromi dengan waktu.

  • Currently 5.0/5 Stars.
Picture of Jeremy Moss

Jeremy Moss

31May10

Oh wow.  This was the first film by Ling-Miang I have seen and I was immediately struck by the austere and structured photography.  The camera never moves.  Music is minimal minimal, if at all.  Yet, within the rigid and picturesque frame are characters that are enigmatic, soulful, angst-ridden, withdrawn – dealing with death and loss and isolation. 

The artful and careful flow from scene to scene and the attention to extreme contrasts at edit points is impressive and pleasing.

Juxtaposing dark and light. 

Contrasts in depth – Y Axis to  Z Axis.
 

Warm to cool tones.

And jarring sound juxtapositions (of which I will not demonstrate – but just imagine!)

Genius.

Picture of jimmylorunning

jimmylo​running

15Nov09

A re-“watch”. This time, the movie was less funny, but more tender, and even sadder than before. I was struck by the sadness of seemingly awkward private gestures, the girl stuffing her face with crackers and bananas in a hotel room in Paris… the mother masturbating with the container of her dead husband’s ashes. The silence is not really silence but tapestries of odd rhythms. Sounds emanating from all corners to penetrate and intrude the characters. In fact, everything is a form of penetration while on the surface looking rather harmless: penetration as a substitute for connection. I was also a bit surprised by how much I related to the girl this time, more so than the other two characters. I thought her scenes were the saddest and most awkward. I imagined the movie as a musical composition (keeping tune to the odd beat of a watch being smashed against the railings) with 3 different parts (bass, alto, tenor?) played by the three different characters, all separate (and separated) but in synch, crescendoing almost literally as all three are brought to a sexual climax, although one that is illusively disappointing, perhaps inherently so because of what they’re expecting from it: human connection. And yet these three musical parts always remain alone. The last shots of this movie are some of the most memorable and affecting I have seen, with the father walking into a sunset… or what stands for a sunset in this movie: the carousel in the fairground, perhaps the same fairground that 400 Blows was shot, when Jean Pierre Leaud was pushed against the wall.

  • Currently 5.0/5 Stars.