What Time Is It There dibuka dengan shot statis berdurasi panjang, seorang lelaki tua baru saja keluar dari kamarnya. Dia memanggil Hsiao Kang, anaknya sebelum duduk di depan meja makan. Dia duduk lama di situ, lalu bangun dan beranjak menuju ke belakang rumah, menyalakan rokoknya.
Lelaki tua itu kini telah menjadi abu dan tersimpan dalam guci. Hsiao Kang berdesis, untuk bersama dirinya. Mereka baru saja melewati sebuah terowongan gelap, menuju upacara pemakaman.
Hsiao Kang adalah seorang penjual jam di emperan jalan di Taipe. Suatu hari setelah kematian bapaknya dia bertemu dengan seorang perempuan yang hendak pergi ke Paris yang menginginkan jam tangan yang dikenakannya karena jam itu memiliki dua waktu. Hsiao Kang menolak menjualnya karena akan membawa sial bagi si perempuan. Jam ini pemberian bapaknya yang baru saja meninggal. Perempuan itu tidak percaya tahyul seperti itu. Dan Hsiao Kang akhirnya bersedia menjualnya. Namun pertemuan dengan Shiang chyi membawa sebuah perubahan besar dalam diri Hsiao Kang, dia menjadi terobsesi dengan waktu sekaligus Paris. Hsiao Kang mulai ingin tahu tentang Paris. Di malam hari dia nonton 400 blows sambil minum wine. Dia juga memutar semua jam mengikuti jam di Paris. Bahkan jam yang tergantung di sebuah dinding luar gedung bertingkat tinggi. Sementara Shiang chyi di Paris yang tidak dijelaskan ke sana untuk apa, terasing dengan lingkungannya. Dia mendengar suara-suara tapi tidak tau suara siapa. Dia membaca menu yang tidak dia mengerti bahasanya. Satu-satunya perempuan cina yang ditemuinya dan kemudian tidur bersamanya, menolaknya untuk bercinta.
Rasa kehilangan, kesendirian dan ingin menemukan kembali menjadi tema besar film ini. Tsai Ming Liang menuturkan tema tersebut lewat situasi bukannya dialog. Pilihan shot-shot long take statis memberi tempat kepada penonton untuk terlibat dalam sebuah observasi dan meditasi untuk tenggelam dalam situasi dan rasa kehilangan tersebut.
Dengan ciri artistik ini membuat film bertutur tidak seperti kebanyakan film mainstream. Tidak salah kalau kemudian ada penonton yang berkomentar bahwa film ini sangat lambat dan kering. Jika dalam kebanyakan film mainstream nuansa sedih biasa diiringi biola yang menyayat, atau musik melankoli untuk mengangkat emosi penonton, dalam film ini tidak ada musik sama sekali. Memang benar-benar kering. Pilihan suara diluar dunia frame diminimalisir. Semuanya membuat berjarak dan jauh. Dan itu sejalan dengan ide dan tema dalam film ini. Artinya konsep artistik yang dipakai Tsai Ming Liang menjadi efektif dan berhasil. Perasaaan yang terbangun dalam diri penonton bukanlah bentukan artificial tapi karena penyelaman atas situasi yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Contoh ketika bagaimana sang istri, ibu Hsiao Kang, yang makan malam sendirian di meja makan dengan ditemani sebatang lilin seolah sang suami duduk di depannya dan kemudian akhirnya mereka bercinta dalam kehangatan, saya tahu sang ibu sedang bermasturbasi dalam bentuknya yang paling suci.