Saya belum pernah menonton film “Before Sunrise”. Namun, dalam film “Before Sunset” ini, saya menangkap bahwa bagi dua karakter utama film ini, malam panjang yang dilalui meeka berdua dalam film “Before Sunrise” adalah sebuah malam yang romantis dan langka. Setelah 9 tahun sejak pertemuan mereka untuk pertama kali di Vienna, Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy) akhirnya kembali bertemu di kota Paris saat Jese sedang mempromosikan novelnya yang menjadi bestseller di Amerika, “This Time”, yang menceritakan momen-momen yang mereka habiskan bersama di Vienna. Sepanjang film ini, kita mengikuti pembicaraan mereka yang dimulai dari penjelasan Celine akan meninggalnya Neneknya yang membuat dirinya tidak bisa datang ke Vienna 9 tahun lalu dan mengecewakan Jesse, sampai dengan bagaimana perasaan mereka terhadap satu sama lain setelah 9 tahun. Pembicaraan panjang ini terjadi dengan batasan waktu keberangkatan Jesse ke bandara untuk pulang kembali ke Amerika.
Kekuatan utama film ini berada pada dialognya. A.O Scott dalam reviewnya untuk film ini berkata,“Can’t they just say what they mean? Can you? Language, after all, is not about points and meanings. It is a medium of communication, yes, but also of avoidance, misdirection, self-protection and plain confusion, all of which are among the themes of this movie, which captures the deep truth seldom acknowledge on screen or in books.” Apa yang ditulis oleh A.O Scott sudah menggambarkan kekuatan dialog dalam film ini yang begitu tidak biasa. Dialog yang diucapkan bukanlah sesederhana pengucapan kata “Iya” oleh seorang aktor dengan ekspresi yang jelas menyatakan dia telah berbohong. Terkadang pada beberapa adegan, saya berpikir bahwa mereka sudah menyatakan apa yang mereka sebenarnya rasakan. Namun, saya kembali berpikir adanya kemungkinan besar bahwa mereka masih menyimpan sesuatu yang lebih dalam lagi dibalik kata-kata mereka.
Dalam adegan di sebuah perahu turis, Jesse mengakui bahwa dia menulis buku itu sebagai sebuah cara untuk bisa bertemu dengan Celine kembali. Itu berarti Jesse sudah mempersiapkan diri jika bertemu dengan Celine, begitu juga dengan Celine. Hal ini membawa mereka bertemu dengan menyeret sebuah kantung besar berisi semua pengalaman yang telah mereka lalui sejak 9 tahun lalu, tapi dengan tetap memegang sebuah perisai di tangan yang lain untuk menjaga agar perasaan mereka tidak begitu mudah terbaca satu sama lain. Ini mengingatkan saya akan kata-kata Ibu saya, yaitu “Tiko, kamu jangan terlalu ekspresif. Nanti mudah dibaca orang dan itu nggak bagus, Nak.” Saya rasa Jesse dan Celine juga memahami hal yang sama. Namun, permasalahannya adalah mereka mencintai satu sama lain. Cinta itu membuat mereka menurunkan perisai meeka dan membuka ikatan kantung besar yang mereka seret sedikit demi sedikit.
Dialog dalam “Before Sunset” memiliki kemampuan untuk berkembang dengan usia penonton. Terakhir kali saya menonton film ini adalah sekitar 1,5 tahun lalu saat saya masih berumur 17 tahun. Saat itu, saya terkesan akan film ini karena saya tidak pernah menyaksikan film yang isinya adalah hanya dua orang saling bercerita. Hal lain yang membuat saya menyukai film ini saat itu datang dari akting Ethan Hawke dan Julie Delpy.Untuk dialognya sendiri, saya pikir saya sudah mengerti permasalahan mereka berdua. Sekarang, saya menonton film ini untuk ketiga kalinya di saat umur saya 19 tahun dan ternyata “Before Sunset” semakin memukau saya. Saya semakin memahami gejolak perasaan dalam diri Jesse dan Celine, tapi kali ini saya tidak berani untuk mengatakan bahwa saya sudah memahami mereka sepenuhnya. Saya justru sangat penasaran bagaimana pandangan saya terhadap Jesse dan Celine beberapa tahun dari sekarang atau saat saya berumur 30 tahunan seperti karakter Jesse dan Celine dalam film ini jika Tuhan mengijinkannya.
Ethan Hawke dan Julie Delpy memegang peranan penting dalam menghadirkan dialog film ini yang seperti labirin menuju ke hati karakter mereka. Meeka sukses melakukannya dengan dua hal : akting dan ikut membuat skenario film ini. Mereka menumpahkan kejadian-kejadian dan pemikiran-pemikiran nyata dari diri mereka ke dalam karakter Jesse dan Celine ini sehingga membuatnya memiliki elemen realisme semakin nyata. Ethan Hawke sungguh mempesona saat adegan Celine memeluk Jesse. Kita bisa melihat wajah Jesse memerah dan dirinya menjadi nervous. Ia sangat terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba dari Celine itu.
Richard Linklater juga menantang dirinya sendiri untuk bisa membuat film dengan konsep “real time” ini dimana waktu yang dilewatkan dalam cerita merupakan runtime dari film ini sendiri. Untuk bisa menghasilkan film ini, kesulitan datang dari segi teknis di mana lighting, make up, kostum, framing, blocking, dan editing serta dari segi akting itu sendiri. Shot yang diambil adalah shot-shot panjang dengan waktu sekitar 8-11 menit pe shot. Pengambilan shot-shot itu tentu susah, tapi kita melihat film ini berjalan dengan begitu mulus. Lihatlah adegan dalam mobil yang semuanya diambil dalam satu shot. Adegan tersebut banyak dibicarakan karena adanya gerakan tangan Celine yang ingin membelai kepala Jesse, tapi langsung ditarik kembali saat Jesse menengok ke arahnya. Adegan panjang yang tersebut diambil dalam satu take. Yap! Satu take saja. Ini juga menjadi bukti bahwa Ethan dan Julie sangat mengenal karakternya sampai mereka bisa berakting dengan sangat natural meski sadar bahwa dikelilingi dengan kru yang sibuk untuk bisa mensyuting adegan itu dengan mulus.
Hal lain yang banyak dibicarakan adalah saat Celine sedang menari, menyanyi, dan berbicara meniru penyanyi Nina Simone dan berkata,“Baby… you are gonna miss that plane.” Line itu terdengar puitis. Jawaban Jesse kepada Celine juga tidak kalah menarik dan menurut saya, adalah sebuah penentu dari perasaan yang ditimbulkan oleh ending film ini. Jesse berkata," I know" dan selanjutnya melakukan hal sesuatu yang baru saja saya lihat sekarang. Ia memainkan cincin pernikahannya.
Gestur itu mengubah pemikiran saya terhadap apa yang terjadi pada mereka saat credits berjalan. Dahulu saya berpikir bahwa Jesse pasti akan tetap tinggal di apartemen Celine karena pernikahannya sekarang menyedihkan (Ia tidak mencintai istrinya) dan Ia pun juga sudah lama menginginkan untuk bersama Celine. Tapi, bagaimana jika Ia pergi karena Ia teringat akan anaknya melalui permainan cincin pernikahannya itu dan karena Celine pun sudah memiliki pacar (meski Ia tidak begitu mencintai pacarnya)? Apakah Ia akan pergi dan memutuskan untuk tidak akan bersama dengan Celine? Ataukah Ia akan pergi untuk bercerai dan kembali bersama Celine? Atau mungkin apa pun pilihan saya untuk nasib mereka berdua selanjutnya hanya akan menunjukkan apakah saya seseorang yang romantis atau tidak.
(Diambil dari blog Labirin Film http://labirinfilm.blogspot.com)