Saya sempat cemas ketika teman saya membisikan kalau Babi Buta menurut Garin adalah film Indonesia terbaik. Waktu itu jam sudah menunjukkan 19.00, pintu pertunjukan belum juga di mulai. Ini malam kedua saya di Jogja Asian Film Festival (JAFF). Pengunjung tidak seramai malam pembukaan ketika film Merantau diputar. Dalam hati saya betanya-tanya kira-kira apa yah kriteria film terbaiknya Garin, dalam hati juga saya menjawab pertanyaan saya sendiri, semoga bukan jenis film yang kecanduan metafor hingga lupa menginjak bumi.
Seiring bertambahnya waktu, pengunjung makin ramai. Bajigur, mungkin mereka sudah tau bahwa film tidak diputar pukul 19.00 seperti tertera di tiket. Saya yang datang pukul 18.30 akhirnya hanya bisa celingak celinguk sampai akhirnya seorang teman memanggil karena ternyata dia juga mau menonton Babi Buta. Film ini sudah dua kali hadir di Jogja. Pertama, lewat program pemutaran filmnya Kinoki dan yang kedua adalah saat festival ini. Dan tampaknya Babi Buta tidak akan pernah masuk 21 karena isinya yang provokatif dan subversif. Film ini tidak pernah mampir ke kantor Lembaga Sensor Film.
Dalam sejarah perfilman Indonesia, saya belum pernah melihat film yang dibuat dengan begitu personal. Bisa jadi Babi Buta adalah satu-satunya film yang dibuat dengan pendekatan itu. Edwin yang beretnis cina berbicara soal cina sebagai identitas di negeri yang punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Edwin yang memiliki bapak seorang dokter gigi juga menceritakan tentang seorang dokter gigi yang “berlagak” buta dan keranjingan lagu Stevie Wonder, I Just Called to Say I Love You. Edwin sesungguhnya sedang menatap ke depan, tidak menunduk atau mendongak bak idiot, mengajak penonton untuk memasuki pikirannya tentang apa dan bagaimana rasanya menjadi cina di negeri ini.
Ada kisah Verawati, seorang pemain bulu tangkis nasional yang sedang berhadapan dengan pemain dari cina. Bagi seorang anak yang mungkin belum bisa membaca dan baru mengenal angka, verawati tidak ada bedanya dengan pemain cina tersebut. Karena Indonesia hanyalah sebuah cetak besar yang terpampang di punggung dan papar skor. Tanpa itu Verawati adalah perempuan berkulit putih dan bermata sipit. Ada juga kisah Linda yang gemar memakan petasan. Linda berteman dengan Cahyono, anak manado yang sering diejek dan dianiaya karena tidak ada bedanya dengan cina. Cahyono terobsesi menjadi orang Jepang, mungkin dengan begitu hidupnya akan baik-baik saja. Halim si dokter gigi, suami dari Verawati dan bapak dari Linda , ingin sekali jadi “Indonesia”. Halim perlu merobek matanya agar tidak sipit, berganti agama, dan kawin lagi agar memiliki anak bermata belo. Satu-satunya tokoh dalam film ini yang tampaknya berdamai dengan dirinya adalah sang Opa, yang hari-harinya di isi dengan bermain bilyar dan menemani Linda, sang cucu.
Kisah-kisah di atas bergerak bak mozaik. Banyaknya tokoh dengan isu yang sama hanya memungkinkan penceritaan dituturkan dengan model paralel yang non linear. Pilihan penceritaan ini membuat film menjadi tidak repetitif dan menantang penonton untuk mencari dialektika pada setiap shotnya. Edwin jelas tahu benar bagaimana membuat film yang baik. Edwin bagi saya adalah sutradara terbaik Indonesia saat ini. Dia sangat efektif ketika mengambil shot. Terkadang Edwin hanya melakukan framing dengan shot long take. Tidak ada dialog tapi gambar menghasilkan kisah getir yang mendalam. Dengan tehnik long take ini, gambar lebih banyak bercerita ketimbang dialog. Hampir setiap shot diperlakukan dengan istimewa. Sekuen Babi yang terikat di sebuah padang ilalang sepertinya berpretensi sureal atau absurd, tapi bagi saya tidak. Ini bukan metafor. Sebutan itu terlalu lunak, subtil dan eufisme. Babi adalah personifikasi, yang diciptakan oleh anak-anak kampung untuk orang seperti Halim. Yang terjadi kemudian juxtapose shot babi dan Halim. Ketika Halim threesome dengan Helmi dan Yahya, dan Halim di tembus dari depan belakang, pada shot berikutnya terlihat keluaran cairan dari pantat babi. Menjijikan? Damn!! Ini adalah adegan paling jenius sekaligus merangkum seluruh bentuk represif yang telah dilakukan penguasa terhadap etnis cina. Tidak melulu dalam bentuk yang paling nista, Edwin masih bisa menertawakan dirinya. Sebuah humor yang gelap. Lewat lagu Stevie Wonder, shot close up pada layar karaoke mengajak penonton berdendang bersama lagu I Just Called to Say I Love You sebuah anthem sinis untuk mengenang kerusuhan Mei.
Pertanyaannya kenapa sekarang? Ketika situasi relatif aman dan tampaknya etnis cina akan baik-baik saja di negeri ini setelah selama 4 abad harus beradaptasi, berganti nama untuk bisa membaur dengan pribumi. Bukankah film seperti ini hanya akan memprovokasi, apalagi simbol-simbol agama banyak muncul di film ini. Saya kira film ini adalah jawaban dari pertanyaan Edwin sendiri selama ini tentang dirinya. Sebabnya ini menjadi sangat personal. Seperti kebanyakan karya yang personal, penonton akan belajar dari kehidupan yang berjarak dari dirinya. Dan Edwin telah berhasil bercerita bagaimana rasanya menjadi cina.