MUBI brings you a great new film every day.  Start your 7-day free trial today!
Watch a new film every day for $4.99.
Try MUBI for FREE.
 

Monrak Transistor: nasib, cinta dan gambar yang indah

Karena menyanyi Pan bertemu dengan Sadaw. Karena menyanyi juga Pan berpisah dengan Sadaw. Nasib yang aneh. Namun benarkah ini berhubungan dengan nasib? Sipir tua itu yang bilang “ Nasib buruk Pan belum berhenti di sini “. “ Dan kalau saja film ini berhenti pada saat adegan Pan menikah dengan Sadaw film ini akan menjadi film pendek yang manis. Sayangnya ini bukan film pendek “

Tidak mudah bagi Pan untuk mendapatkan Sadaw. Pertama dia harus babak belur demi membela Sadaw dari kekurangajaran pria parlente dengan centengnya. Kedua dia harus melunakkan calon mertuanya yang garang. Sekuens awal ini memang terkesan menjadi komedi tapi Ratanaruang menjadikannya classy, karena sinematografi yang ciamik lewat warna-warna yang cerah. Kubangan lumpur yang coklat pekat ketika di shot dari kedalaman menampakkan warna hijaun yang eksotik. Pasti Ratanaruang sedang menggambarkan gelora cinta itu. Aura Pan mungkin.

Monrak Transistor adalah film tentang cinta. Kisahnya tentang Pan seorang penyanyi amatir yang biasa manggung di kampung-kampung. Suatu hari Pan yang sedang manggung bertemu dengan Sadaw yang sangat jelas terlihat bahwa dia adalah perempuan tercantik di tempat itu. Pan jatuh cinta dengannya. Begitu juga dengan Sadaw. Pendek cerita mereka akhirnya menikah dan tampaknya akan hidup happily ever afer. Sampai sebuah situasi menantang rumah tangga mereka. Pan harus berangkat wajib militer. Cinta mereka pun teruji. Pan meminta Sadaw untuk menunggunya dan berjanji akan selalu mengirim surat untuknya. Pan tidak tahu, menurut sipir tua itu, ini adalah awal dari nasib sialnya. Kesialan yang akan terus berulang terjadi dalam hidupnya. Coba bayangkan adegan-adegan ini. Pan di medan perang. Pan melarikan diri dari tugas militer demi mengejar impiannya menjadi penyanyi terkenal. Pan menang kontes menyanyi yang bukan membuatnya menjadi penyanyi tenar malahan menjerumuskan dirinya menjadi babu, tukang pel dan bersih-bersih. Tapi kini Sepertinya Pan akan berubah nasib, karena suatu hari seorang penyanyi tidak dapat hadir di panggung. Pan keringat dingin. Ini adalah kesempatannya. Pan naik panggung dan semua penonton terkesima. Semuanya tampaknya akan baik-baik saja. Istri dan mertuanya yang datang dari dusun ikut menonton pertunjukkan malam itu. Kebahagian yang sempurna. Dua tahun tidak bertemu pasti membuat mereka akan saling melepas rindu. Tapi ternyata malam pertemuan itu berlangsung singkat, Pan diburu oleh produsernya. Pan melepaskan kebahagian yang ada di depan mata dan memilih mengejar ambisinya. Adegan-adegan selanjutnya hanyalah kesialan-kesialan yang dialami Pan. Saya sampai setuju dengan Sipir tua itu, cukuplah film ini jadi film pendek saja atau paling tidak selesai sampai Pan dan Sadaw bertemu di parkiran malam itu.

Ratanaruang dikenal sebagai seorang yang anti naratif dalam pendekatan filmnya. Dalam film ini tidak kelihatan pendekatan itu walaupun narasinya juga tidak biasa. Sipir tua yang bertugas menjaga sel di temapat Pan di penjara juga bertugas sekaligus sebagai narator dalam film ini. Terkadang lewat voice over, terkadang dia muncul di depan kamera dengan mata menatap penonton.

Sebagai film tentang cinta, film ini memberikan pengalaman menonton yang berharga. Selain pendekatan artistik yang memang ciamik, musik yang catchy sampai sisi dramatik yang mampu mengaduk-aduk emosi dan memberikan pelajaran hidup bagi penontonnya. Pilihan adegan sebelum sekuen terakhir, ketika Pan keluar dari penjara dan bertemu temannya yang sudah “sukses” adalah sebuah jawaban kalau sipir tua itu salah. Ini bukan nasib, ini adalah pilihan. Saya jadi teringat ketika mata saya basah sehabis menonton Tokyo Sonata (Kiyoshi Kurosawa,2008) ketika sang suami berucap “ I wanna start all over again “.
Saya kira itu yang ada di benak Pan, untuk mendapatkan kembali Sadaw.