“Sometimes i wish there was a film crew following my every move, i imagine camera craning up as i walk away, but unless things improve, the biopic of my life only have the budget for a zoom out”
Bocah ingusan yang terlalu dini untuk mendalami Nietzche, membaca Cathcer In the Rye, dan mengerti kata Eksistensialisme. Sebuah kombinasi suicidal antara arogansi Max Fischer dan nihilisme dini Antoine Doinel, namun berosmosis di jiwa yang jauh lebih gelap, pengecut, dan introvert.
Walau banyak meminjam dari Rushmore dna 400 Blows, Submarine berhasil tersenyum dan memamerkan wajahnya sendiri, hampir sepenuhnya dikarenakan visualisasi yang liar, kuat, namun pemalu layaknya seorang remaja introvert yang memilih membaca Cathcer In The Rye dan menonton film-film Godard dan menjadikannya referensi absolut sebagai sumbu sinikalisme nya terhadap apapun di dunia ini.
Dibeberapa part, Submarine terasa amat cheezy, namun saya mengangguk setuju kalau itu tidak bisa dihindari dan memang seharusnya dieksekusi seperti itu, karena sekali lagi, ini potret eksistensialis dari polaroid seorang remaja yang menolak bersentuhan dengan common things di sekitarnya, justru penggambaran nan cheezy dan sok mengerti segalanya itu yang membuat kita merasa memakai kacamata Oliver Tate. Walaupun saya harus tertawa sinis kepada ke sok-tahuannya, toh saya menikmati secangkir teh ini, yang mungkin terlalu “manis” atau “pahit” bagi beberapa orang.