For a better experience on MUBI, update your browser.

10 Worst Movies of 2010

by Amir Syarif Siregar
Di antara ratusan judul yang dirilis di layar bioskop setiap tahunnya, tentu saja tidak secara keseluruhan yang mampu memenuhi harapan kualitas setiap penontonnya. Beberapa kali, penonton akan dihadapkan pada situasi ketika mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari sebuah film yang akan mereka tonton, namun kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa film tersebut ternyata… sangat buruk setelah ditonton – yang membuat beberapa di antara beberapa penonton berharap bahwa mereka dapat mengulang kembali waktu dan berharap mereka tidak melakukan kesalahan yang sama. Well… berikut daftar yang berisi sepuluh film yang paling buruk kualitasnya… Read more

Di antara ratusan judul yang dirilis di layar bioskop setiap tahunnya, tentu saja tidak secara keseluruhan yang mampu memenuhi harapan kualitas setiap penontonnya. Beberapa kali, penonton akan dihadapkan pada situasi ketika mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari sebuah film yang akan mereka tonton, namun kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa film tersebut ternyata… sangat buruk setelah ditonton – yang membuat beberapa di antara beberapa penonton berharap bahwa mereka dapat mengulang kembali waktu dan berharap mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.

Well… berikut daftar yang berisi sepuluh film yang paling buruk kualitasnya sepanjang tahun 2010.

01 Vampires Suck (Directors: Jason Friedberg & Aaron Seltzer, 20th Century Fox)

Tidak banyak yang dapat untuk dikatakan mengenai Vampires Suck, film keenam dalam filmografi kerjasama Jason Friedberg dan Aaron Seltzer sebagai penulis naskah dan sutradara. Bagi mereka yang masih dapat mentolerir keburukan Disaster Movie dan menganggapnya lucu kemungkinan besar akan kembali menyaksikan film ini. Namun dengan jalan cerita yang sangat berantakan, humor yang tidak bekerja sama sekali dan akting para pemeran yang cenderung mengesalkan, Vampires Suck adalah sebuah mimpi buruk yang seharusnya tidak dialami semua orang.

02 Valentine’s Day (Director: Garry Marshall, New Line Cinema)

Sekelompok aktor dan aktris papan atas Hollywood melakukan bunuh diri karir mereka secara bersama-sama. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak karakter, terlalu banyak hal-hal manis, terlalu banyak cinta… gagal dieksekusi dengan benar. Film ini malah terasa berjalan lama, membosankan dan cenderung mengesalkan, bahkan bagi mereka (yang biasanya cukup terbuka dengan genre-genre ringan bertemakan romansa seperti ini. Valentine’s Day adalah salah satu film paling mengecewakan yang pernah Anda saksikan.

03 Furry Vengeance (Director: Roger Kumble, Summit Entertainment)

Dengan naskah cerita yang sangat minim pengembangan, durasi 92 menit yang dihadirkan Furry Vengeance dihabiskan kebanyakan pada adegan aksi balas dendam yang dilakukan oleh karakter penghuni hutan terhadap karakter Dan Sanders, yang kemudian dilakukan secara berulang-ulang. Sangat membosankan! Visual effect yang dihadirkan juga sangat memprihatinkan dan benar-benar membuat Furry Vengeance sepertinya hanya dapat dinikmati oleh para penonton di bawah umur. Dangkal dan dihadirkan dengan cara yang benar-benar buruk!

04 Gulliver’s Travel (Director: Rob Letterman, 20th Century Fox)

Tidak ada satupun elemen dari Gulliver’s Travel yang benar-benar dapat diunggulkan dan dibanggakan. Mulai dari jalan cerita yang berisi lelucon kekanak-kanakan, dialog konyol yang sangat bodoh hingga para pemerannya yang seperti tidak dengan benar-benar mau memerankan karakter mereka. Sangat berantakan dan sama sekali tidak menarik untuk disimak.

05 The Bounty Hunter (Director: Andy Tennant, Columbia Pictures)

Well… sebenarnya dengan melihat premis yang ada, para penonton seharusnya sudah tahu mengenai hal apa yang hendak ditawarkan film ini. Sayangnya, premis yang telah diketahui oleh penonton tersebut rasanya dihadirkan dengan sangat sederhana, tidak mengalami pengembangan ataupun sedikit perbaikan. Bergantung penuh pada daya tarik dua pemeran utamanya, Jennifer Aniston dan Gerard Butler, tanpa mampu menghadirkan cerita yang menarik, The Bounty Hunter hadir sebagai sebuah drama komedi romantis yang datar dan cenderung membosankan tiap menit film ini berjalan.

06 When in Rome (Director: Mark Steven Johnson, Touchstone Pictures)

Naskah cerita When In Rome yang sangat dangkal sepertinya telah benar-benar menghancurkan peluang film ini untuk mengembangkan diri dan memberikan sajian hiburan tersendiri bagi para penontonnya. Tidak pernah benar-benar romantis dan memang benar-benar tidak pernah menawarkan sebuah sajian komedi yang menghibur, When In Rome tersudut menjadi sebuah film yang tidak menawarkan apa-apa selain menawarkan keindahan tampang dua pemerannya serta sesekali keindahan latar belakang lokasi pengambilan gambar yang dilakukan di Roma, Italia. Shame on!

07 Possession (Directors: Joel Bergvall & Simon Sandquist, Yari Film Group Releasing

Datarnya jalan cerita, tentu sedikit banyak berpengaruh pada akting yang diberikan para jajaran pemeran film ini. Akting yang kebanyakan dilakukan oleh Gellar dan Pace sebenarnya sudah cukup lumayan, namun karena kurang menggigitnya jalan cerita yang ada, akting mereka sepertinya hanya dapat dinikmati sebagai akting berkualitas standar, tidak buruk namun jauh dari kategori memuaskan. Sepertinya, Possession mungkin lebih baik untuk langsung dirilis ke DVD, itupun dengan porsi dinikmati ketika Anda benar-benar telah kehabisan bahan tontonan lainnya, karena film ini sama sekali tidak mengesankan.

08 The Experiment (Director: Paul Scheuring, Stage 6 Films)

Tidak banyak yang dapat ditawarkan oleh The Experiment. Walau menawarkan jajaran pemeran yang cukup menggiurkan, lemahnya karakterisasi pada naskah cerita film ini membuat para pemerannya tidak mampu melakukan banyak hal untuk mengembangkan akting mereka. Terlebih lagi jalan cerita yang dihadirkan juga sangat terasa tidak hidup dan cenderung berjalan datar semenjak film ini dimulai. Sangat mengecewakan untuk sebuah film yang mampu menarik perhatian dua aktor pemenang Oscar.

09 Cop Out (Director: Kevin Smith, Warner Bros.)

Cop Out tidak menawarkan apapun yang baru kepada para penontonnya. Masih menawarkan kisah persahabatan antara dua orang polisi yang kemudian berusaha memecahkan permasalahan pribadi maupun kasus kejahatan yang mereka hadapi bersama, Cop Out seperti kebingungan dalam mempadupadankan potensi komedi, drama dan action yang ada di dalam naskah ceritanya untuk dapat disampaikan kepada para penontonnya. Diperparah dengan jajaran pemerannya yang seperti setengah hati dalam memerankan karakter mereka, menghasilkan Cop Out seperti sebuah film yang dibuat dalam keadaan terpaksa dan sumber daya yang seadanya. Mengecewakan.

10 Extraordinary Measures (Director: Tom Vaughan, CBS Films)

Sebuah kisah nyata, dengan tema cerita yang masih belum banyak digali dari film-film Hollywood lainnya, ternyata belum menjamin bahwa sebuah film dapat menjadi sebuah tontonan yang menarik. Extraordinary Measures membuktikan bahwa dengan arahan yang biasa, cerita potensial yang sebenarnya dapat digali dari sebuah cerita menjadi terbuang dengan sia-sia. Naskah yang terlalu berfokus pada tiga karakter utamanya, dan mengenyampingkan potensi dramatis yang dapat diberikan pada penontonnya, membuat para pemerannya tidak dapat berbuat banyak untuk menghidupkan karakter mereka. Hasilnya, Extraordinary Measures hanya menjadi sebuah film keluarga inspirasional biasa, tanpa mampu memberikan kelebihan lainnya pada penontonnya.

Read less