For a better experience on MUBI, update your browser.

Top 10 Movies of 2009

by Amir Syarif Siregar
Tahun 2009 adalah tahun kebangkitan dari film-film sci-fi. Hollywood berhasil membuat banyak film-film bergenre ini dengan kualitas yang sangat luar biasa. Tidak hanya itu, selain berkualitas unggul, film-film sci-fi ini terbukti mampu juga menghibur setiap kalangan penonton, bukan hanya kalangan geek penggemar film-film sci-fi. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkuasanya film-film dari genre ini di tangga box office. Selain sci-fi, genre animasi juga sepertinya semakin menajamkan tajinya. Kalau soal film animasi yang berhasil memperoleh raupan uang yang tidak sedikit selama masa tayangnya, itu bukanlah hal baru. Namun tahun 2009, kualitas… Read more

Tahun 2009 adalah tahun kebangkitan dari film-film sci-fi. Hollywood berhasil membuat banyak film-film bergenre ini dengan kualitas yang sangat luar biasa. Tidak hanya itu, selain berkualitas unggul, film-film sci-fi ini terbukti mampu juga menghibur setiap kalangan penonton, bukan hanya kalangan geek penggemar film-film sci-fi. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkuasanya film-film dari genre ini di tangga box office.

Selain sci-fi, genre animasi juga sepertinya semakin menajamkan tajinya. Kalau soal film animasi yang berhasil memperoleh raupan uang yang tidak sedikit selama masa tayangnya, itu bukanlah hal baru. Namun tahun 2009, kualitas film-film animasi mampu bersaing ketat dengan film-film dari genre lainnya.

Anyway, daftar Top 10 Movies of 2009 berikut merupakan hasil penilaian saya atas film-film Hollywood yang dirilis selama jangka waktu tersebut. Film-film ini, dalam pandangan saya, merupakan sederetan film yang tidak hanya mampu menghibur, namun dapat meninggalkan kesan tersendiri bagi para penontonnya, setelah mereka selesai menonton film tersebut.

TOP 10 MOVIES OF 2009

1. Up

Pixar adalah satu-satunya perusahaan film di Hollywood yang ketika mereka merilis sebuah filmnya, dapat membuat para penonton harus menyusun ulang daftar film-film favorit mereka. Dan untuk tahun ini, Pixar berhasil melakukannya kembali dengan Up.

Tidak perlu membicarakan keindahan visual yang ditawarkan oleh film ini. Pixar adalah sebuah jaminan mutu dari kualitas dan keindahan visual.

Lalu mengapa Up berada di posisi pertama di daftar ini? Karena tidak ada satupun film yang dirilis selama 2009 yang mampu untuk menyentuh hati setiap penontonnya sedalam Up. Terdengar klise? Mungkin. Tapi cerita mengenai seorang pria tua yang hidup sendirian setelah ditinggal mati oleh istrinya, dan kemudian menemukan kembali arti kebahagiaan hidup setelah berpetualang dengan seorang bocah dan rumah terbang adalah sebuah petualangan hati terbaik yang dapat Anda temui untuk tahun ini.

Oh, tambahkan juga score paling indah karya Michael Giacchino sebagai salah satu alasan untuk mempertahankan Up sebagai film terbaik tahun ini.

2. District 9

Karya sci-fi terbaik untuk tahun ini datang dalam bentuk udang raksasa yang berkunjung dari planet lain untuk menumpang hidup di Bumi setelah kendaraan yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar untuk melakukan perjalanan kembali ke planet asal mereka.

Dan District 9 bukanlah sebuah bentuk propaganda Hollywood yang menyudutkan alien sebagai sebuah makhluk kejam dengan kegemaran untuk menculik manusia dan menjadikan mereka sebagai bahan percobaan. Tidak. Bayangkan Extra Terrestrial, hanya saja dalam bentuk yah… udang raksasa, memiliki sifat seperti manusia pada umumnya dan tinggal di sebuah lingkungan kumuh (versi sci-fi dari Slumdog Millionaire, mungkin?).

Sutradara debutan Neill Blomkamp adalah sang jenius dibalik keberhasilan District 9. Dengan kekuatan naskah cerita yang sangat manusiawi (untuk sebuah film yang bercerita mengenai udang-udang raksasa yang hidup di kawasan kumuh), ia mampu menghidupkan film ini, bahkan dengan tanpa bantuan satupun nama terkenal untuk mendukung kesuksesan film ini. Baiklah, nama Peter Jackson sebagai produser film ini mungkin yang mendorong Anda untuk menyaksikan film ini. Tapi terlepas dari nama besar Jackson, Anda tentu tidak akan dapat menyangkal bahwa Blomkamp telah berhasil menarik Anda secara perlahan ke dunianya lewat film ini.

3. Star Trek

Sebuah pengakuan. Saya bukanlah seorang penggemar dari franchise tua ini. Saya tidak menyukai versi lama, baik film maupun serial, dari franchise ini. Saya, dulu, ketika saya masih kecil, sempat mengira bahwa Star Trek adalah sebuah spin-off dari Star Wars. Saya sama sekali tidak menantikan kedatangan proyek reboot dari Star Trek dan baru saja menonton film ini beberapa minggu sebelum daftar ini dibuat (dan film yang berada di posisi empat saat ini, ketika itu masih berada di posisi tiga).

But what do I know. Versi teranyar dari Star Trek mampu memberikan saya 127 menit terbaik yang pernah saya alami ketika menonton sebuah film.

Kesuksesan sebuah film sci-fi adalah bersumber dari visi dan kejeniusan sang sutradara. Dan Mr Jeffrey Jacob Adams (yah… mungkin Anda terlalu malas dan sering menyebutnya dengan J. J. Abrams) adalah otak dari penyegaran franchise yang sudah sangat layu ini.

Secara jenius, Abrams tidak hanya mampu memberikan beberapa sentuhan baru di beberapa tempat di film ini (beberapa maniak film ini mungkin akan sangat marah but hey… kalau manusia tidak berevolusi, kita tidak akan bertahan sampai sekarang). Pembaharuan tersebut, termasuk dengan memberikan versi yang lebih tampan untuk pemeran Kirk dan Spock (yang tentu saja bermanfaat untuk menarik pangsa pasar wanita), memberikan para geek wanita impian mereka yang baru (Look out Weaver! Here comes Saldana!), memberikan beberapa sentuhan komedi pintar di beberapa sudut cerita, dan tentu saja, spesial efek yang menakjubkan dan akan memuaskan mata para penonton film ini.

4. Avatar

Lebih kurang 12 tahun setelah perilisan karya terakhirnya, the mighty Titanic, yang hingga saat ini masih memegang titel sebagai film berpendapatan terbesar sepanjang masa, memenangkan 11 Academy Awards termasuk Best Picture dan Best Director, dan merupakan film pertama yang saya tonton di bioskop, sutradara jenius/arogan, James Cameron, kembali lagi dengan Avatar. Diputar di penghujung tahun 2009, namun film ini berhasil memasuki banyak daftar film terbaik kritikus film dunia, sekaligus sedang berada di jalur yang benar untuk merebut posisi Titanic (well… maybe second position, replacing that overrated The Dark Knight) sebagai film terlaris sepanjang masa. (Note: Avatar berhasil meraih pendapatan sebesar $623,575,721 selama masa rilis 10 hari di dunia!).

Avatar adalah sebuah pencapaian yang sangat, sangat monumental di bidang special effect. Tak ada satupun keluhan yang dapat disampaikan dari sisi visual film ini. Avatar is one hell of a landmark in a world movie’s history.

Satu-satunya keluhan yang terdapat di film ini (dan hal itu jika Anda benar-benar sedang mencari-cari kelemahan Avatar untuk memojokkan Cameron) adalah lemahnya jalan cerita yang ditawarkan Cameron di film ini. Well… sepertinya bukan rahasia umum kalau Cameron benar-benar lemah di bidang yang satu ini. Tapi entah kenapa Cameron masih begitu angkuh uintuk menulis naskah cerita film ini sendirian, tanpa bantuan seorang “profesional”. (FYI: Titanic memperoleh 14 nominasi Academy Awards, namun tak satupun nominasi itu didapatkan Cameron atas naskah yang ia tulis).

Avatar adalah sebuah fenomena tersendiri di dunia film. Ingat bagaimana Titanic mempopulerkan penggunaan CGI di film-film Hollywood? Film-film lain akan mulai menggunakan teknologi yang sama seperti Avatar dalam beberapa tahun mendatang, sebelum akhirnya King Cameron akan menemukan sebuah teknologi baru untuk digunakan dalam filmnya yang akan datang.

5. The Damned United

Sebagai salah satu negara yang memiliki tim nasional sepakbola terbaik di dunia, dan sebuah klub sepakbola terbaik di dunia (ALL HAIL LIVERPOOL!), sudah sewajarnya kalau Inggris menghasilkan film bertema sepakbola terbaik sepanjang masa. Dan setelah Bend It Like Beckham, The Damned United adalah film yang sangat, sangat pantas untuk memegang gelar tersebut.

Film yang naskahnya ditulis oleh sang jenius Peter Morgan (hey Cameron… get this guy to write your next movie’s script!), yang sukses dengan The Queen, Frost/Nixon, The Last King of Scotland dan State of Play, berdasarkan novel laris berjudul sama karya David Peace, film ini menampilkan penampilan sangat berkelas dari aktor-aktor watak asal Inggris. Michael Sheen, Timothy Spall dan Jim Broadbent tampil begitu hangat dan menyatu dalam setiap karakter yang mereka mainkan dalam film yang mengisahkan perjuangan Brian Clough sebagai manajer dari klub sepakbola Leeds United.

Tidak seperti beberapa film bertema sepakbola lainnya yang cenderung membosankan dan monoton dalam mengisahkan perjuangan sebuah tim atau seorang pemain, The Damned United secara cerdas menggabungkan sisi drama dan black comedy khas Inggris tanpa harus terjebak pada stereotype bahwa film ini adalah based on a true events.

Perpaduan naskah yang hebat, penampilan yang apik di bawah arahan sutradara Tom Hooper (watchout for his upcoming The King’s Speech), The Damned United adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

6. Drag Me To Hell

…dan Anda mengira bahwa saya akan memilih Paranormal Activity sebagai the scariest movie of the year?

Jika Anda baru mendengar nama Sam Raimi setelah franchise Spider-Man yang sangat populer itu, Anda sangat ketinggalan banyak hal.

Dalam Drag Me To Hell, Raimi kembali ke akar horror-nya, tempat yang sama dimana ia pernah menghasilkan The Evil Dead, Evil Dead II dan Army of Darkness, film-film yang bagi beberapa kritik sangat “mengganggu”, namun berstatus cult dan sangat dihormati oleh para pencinta film horror di dunia.

Dan pilihan Raimi tersebut tidak salah. Kembali bekerjasama dengan sang kakak, Ivan Raimi, untuk menulis naskah film ini, Drag Me To Hell terbukti sebagai film horror yang mampu memberikan kembali rasa tegang kepada para penontonnya, tanpa harus menyertakan adegan seorang korban tak berdaya yang harus merelakan bagian tubuhnya terlepas dari tempatnya. Oh… dan kapan terakhir kali Anda merasa begitu senang melihat seorang wanita tua diserang secara membabi buta? This movie is awesome!

7. Coraline

Coraline adalah sebuah bukti lain di tahun 2009 ini bahwa film animasi begitu menunjukkan keberhasilannya dalam menghasilkan sebuah dunia impian baru yang terasa sangat nyata bagi para penontonnya.

Sama seperti Monster House, yang dirilis pada tahun 2006 lalu, yang menengahkan sedikit unsur horror/thriller pada sebuah film animasi, dan menyebabkan film tersebut menjadi sedikit menakutkan bagi penonton anak-anak, yang merupakan pangsa terbesar film animasi, Coraline juga berhasil membubuhkan unsur tersebut untuk menarik hati para penontonnya.

Sang sutradara, Henry Selick, mengadaptasi naskah film ini dari novel karya Neil Gaiman, dan seperti karya fenomenalnya, The Nightmare Before Christmas, Gaiman menggunakan teknik stop-motion untuk menggarap Coraline. Memanfaatkan kemajuan teknologi, Gaiman menambahkan efek 3D pada film ini, menjadikan Coraline sebagai sebuah film surealis yang sangat indah dan tidak akan mudah Anda lupakan begitu saja.

8. Watchmen

Beberapa orang akan merasa bahwa Watchmen adalah sebuah film superhero yang sangat, sangat melelahkan.

Tapi berapa banyak film bertema superhero yang dirilis tahun ini, yang diadaptasi dari sebuah seri komik, yang begitu melelahkan namun mampu memberikan Anda perpaduan antara keindahan visual dan teknologi tanpa harus meninggalkan Anda duduk sendiri dan merasa bodoh akibat naskah film yang begitu kosong?

Membawa keberhasilannya dalam mengadaptasi 300, sutradara Zack Snyder dengan percaya diri mengadaptasi salah satu komik rilisan DC Comics paling kompleks ke layar lebar. Menerapkan pendekatan yang sama dengan 300, Snyder juga menerjemahkan jalan cerita yang ada di komik Watchmen secara sepenuhnya ke dalam bentuk audio visual.

Hasilnya, dengan jalan cerita yang sedikit politis dan dipenuhi oleh banyak karakter yang memiliki sikap dan jalan pemikiran yang kompleks, Snyder mampu membuat Watchmen sebagai sebuah film action yang cerdas, indah, dan sangat mewah.

Keberhasilan inilah yang berhasil membuat Watchmen berada di kelas yang berbeda dari film-film bertema superhero dan juga merupakan hasil adaptasi komik yang beredar sepanjang tahun 2009.

9. (500) Days of Summer

(500) Days of Summer datang di saat banyak penggemar film-film komedi romantis merasa bahwa genre film ini telah benar-benar mati dan hanya diisi oleh berbagai variasi kisah mengenai seorang wanita pirang yang pada awalnya tidak menyukai seorang pria tampan, namun akhirnya jatuh cinta pada sang pria tersebut. Yes, we’re that hopeless.

Diarahkan sebagai film debutan dari Marc Webb, yang lebih banyak dikenal sebagai seorang sutradara music video, dan menerapkan teknik pengambilan music video tersebut pada beberapa scene di film ini, (500) Days of Summer berutang banyak pada penampilan dua bintangnya yang sangat menghidupkan film ini, Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel.

Walaupun kadangkala terasa sebagai sebuah film yang merangkum beberapa bagian terbaik dari film-film komedi romantis terbaik yang pernah dibuat sebelumnya (*cough Eternal Sunshine of the Spotless Mind *cough), namun (500) Days of Summer tetap mampu tampil cerdas dan menarik berkat perpaduan dialog-dialog yang pintar dan sinematografi yang indah yang diberikan di sepanjang film.

Oh, (500) Days of Summer juga memiliki jajaran lagu soundtrack yang tepat mengisi di tiap scene film ini, menjadikan emosi dan mood yang ditawarkan di film ini benar-benar dapat dirasakan oleh para penontonnya.

10. Angels & Demons

Sejujurnya, satu tempat terakhir di daftar film-film terbaik sepanjang tahun 2009 pilihan saya ini sebelumnya akan saya berikan pada Mary & Max, sebuah film animasi karya Australia, yang menurut saya adalah salah satu film animasi yang paling menyentuh yang pernah saya tonton. Tapi entah kenapa, Angels & Demons begitu melekat pada kepala saya.

Lupakan bahwa film ini adalah sebuah film adaptasi dari salah satu novel terlaris dan kontroversial karya Dan Brown. Lepaskan pemikiran bahwa film ini sedikit melenceng dari novel tersebut, dan Anda akan mengerti mengapa saya akhirnya memilih film ini untuk berada di dalam daftar saya.

Sutradara Ron Howard, kembali bekerja sama dengan penulis naskah, Akiva Goldsman (yang bekerjasama dengan David Koepp), produser, Brian Grazer, dan aktor Tom Hanks, untuk melanjutkan kesuksesan The Da Vinci Code. Dan setelah menerima berbagai kritikan untuk hasil kerjanya di The Da Vinci Code, sepertinya Howard mampu memberikan sesuatu yang lebih (dan model rambut yang lebih baik bagi Hanks, tentu saja) pada film ini.

Howard berhasil membangun dan menjaga intensitas Angels & Demons dengan baik. Intensitas film ini terbangun begitu rapi dan terus meningkat di setiap menitnya. Ini akan membuat para penonton terus terikat dan berdebar untuk menyaksikan petualangan Robert Langdon.

Sinematografi karya Salvatore Totino juga berhasil memberikan pemandangan yang indah akan bangunan klasik di Roma, Italia dan Vatikan. Tak lupa, Hanks juga didukung oleh barisan cast yang mampu mengimbangi penampilannya. Ewan McGregor, Ayelet Zurer hingga Stellan Skarsgård berhasil memberikan nyawa pada setiap karakter yang mereka perankan.

Keunggulan-keunggulan inilah yang menjadikan Angels & Demons sebagai salah satu film mystery thriller terbaik untuk tahun ini.

Read less